my journey
Senin, 29 November 2010
Minggu, 28 November 2010
orang bodoh Vs Orang pintar
Orang bodoh vs orang pintar versi Mario Teguh
Orang bodoh sulit dapat pekerjaan, akhirnya berbisnis...
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus merekrut orang pintar.
Walhasil, bossnya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia merekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil, orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar bersekolah guna mendapatkan ijazah untuk mencari kerja.
Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,
maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.
Orang bodoh sulit untuk lulus sekolah hukum (SH).
oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar
untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, dan orang pintar percaya saja.
Selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi terlambat, saat itu orang bodoh sudah berada di atas.
Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil, orang pintar menjadi
anak buahnya orang bodoh.
Saat bisnis mengalami kelesuan, orang bodoh PHK orang pintar yang berkerja untuknya.
Orang pintar ber-DEMO. Walhasil orang-orang pintar
'memelas' kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Ketika bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarga dan rekannya.
Mata orang bodoh selalu mencari celah yang bisa dijadikan uang.
Mata orang pintar jeli mencari kolom lowongan perkerjaan di koran.
Bill Gate (Microsoft), Dell, Henry (Ford),
Thomas Alfa Edison, Tommy Winata, Liem Siu Liong (BCA group),
adalah contoh orang-orang yang tidak pernah dapat S1, tapi kemudian menjadi kaya.
Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.
Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang 'bodoh'.
PERTANYAAN :
Lebih baik jadi orang pintar atau orang bodoh?
Lebih 'cerdik' mana antara orang pintar dengan orang bodoh?
Mana yang lebih mulia, orang pintar atau orang bodoh?
Mana yang lebih susah, orang pintar atau orang bodoh?
KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pintar,
karena lama-lama akan tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang cerdik dari pada jadi orang pintar tapi bodoh.
Kata kuncinya adalah 'risiko' dan 'berusaha',
karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang risikonya kecil,
selanjutnya dia berusaha agar risiko itu betul-betul kecil.
Orang pintar berpikir panjang maka dia bilang risikonya besar, dan
selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil risiko tersebut.
Dan mengabdi pada orang bodoh...
Dimanakah posisi anda saat ini?
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang!
Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi dari berbagai retorika dan dinamika kehidupan.
Semua pilihan dan keputusan ada di tangan anda untuk merubahnya,
Lalu perhatikan apa yang terjadi...
Apakah Anda Bekerja atau Berkarya?
| Bekerja atau berkarya? Apa beda antara keduanya? Bekerja artinya sibuk melakukan berbagai hal, namun berbagai hal tersebut belum tentu memberikan kepuasan dan arti yang mendalam bagi hidup kita. Sebaliknya, berkarya adalah bekerja yang memberikan kepuasan batin, sehingga hasil karya kita tidak hanya dapat dinikmati oleh diri sendiri, tetapi terutama adalah dinikmati dan memberi manfaat bagi banyak orang. Karya seperti inilah yang biasanya menjadi melegenda karena akan diingat terus sepanjang masa. Lalu dalam penerapannya, apa perbedaan bekerja dan berkarya? Ingin tahu? Simak yang berikut. Dua tokoh berikut ini bisa membantu kita untuk melihat perbedaan antara bekerja dan berkarya. Ario adalah seorang guru, ia bekerja di dua tempat. Pagi hari ia bekerja di sebuah sekolah menengah swasta, sedangkan sore dan malam hari ia bekerja sebagai guru privat untuk membantu beberapa siswa yang ingin mendapatkan tambahan pelajaran. Hal ini sudah dilakukannya bertahun-tahun, tetapi tetap saja Ario hanya bisa menghidupi keluarganya pas-pasan, bahkan sering juga mereka hidup dalam kekurangan. Untuk menutupi berbagai kebutuhan, kadang-kadang Ario juga sibuk bekerja di akhir pekan, menerima terjemahan atau berjualan apa saja yang bisa dijadikan uang. Hidupnya penuh dengan kesibukan, tetapi sepertinya Ario selalu kehabisan tenaga dan semangat begitu malam menjelang. Ia sering merasa stress karena kesibukannya yang menyita waktu, tidak hanya waktu pribadinya untuk bersantai menikmati hidup, tetapi juga waktu bersama keluarga, sehingga ia sering merasa jauh dari keluarga. Kedua anaknyapun jarang `bertemu' dengan sang ayah, karena sang ayah pagi hari sudah berangkat kerja sedangkan kembali pulang ketika ia sudah sangat lelah atau ketika anak-anak sudah tidur. Ponco juga seorang guru. Pagi hingga siang hari ia bekerja di sekolah menengah swasta yang sama dengan Ario. Sore hari iapun memberikan pelajaran privat kepada beberapa siswa. Namun, tidak seperti Ario yang terlihat stress dan lusuh karena di dera pekerjaan, Ponco selalu terlihat ceria. Ia juga memiliki dua anak, namun anak-anak terlihat dekat dengannya. Tiap akhir pekan mereka menghabiskan waktu bersama-sama untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan: membersihkan rumah, bermain monopoli, pergi jogging di pagi hari. Kadang-kadang, Ponco juga masih bisa melakukan `pekerjaan lain' disela-sela kesibukan rutin, sebagai ketua RT, ia menjadi koordinator sekolah gratis bagi warga yang kurang mampu di RT tempat ia tinggal. Sepertinya Ario dan Ponco memiliki kesibukan yang serupa, tetapi hasilnya sangat berbeda. Ario selalu dikejar waktu dan pekerjaan untuk menutupi berbagai kebutuhan hidup yang mendesak. Sebaliknya, Ponco, yang juga memiliki kebutuhan hidup yang serupa, masih bisa menikmati hidup bersama keluarga di malam hari dan akhir pekan. Ia juga bahkan masih bisa menyisihkan sebagian dari waktunya untuk membantu masyarakat di sekitar tempat tinggalnya dengan menjadi ketua RT dan koordinator sekolah gratis bagi warga setempat yang kurang mampu. Bila kita perhatikan lebih lanjut, ternyata ada perbedaan sikap yang menyolok dalam melakukan pekerjaan antara Ario dan Ponco. Ario menerima pekerjaan sebagai guru dengan sikap yang `asal dapat pekerjaan dari pada nganggur'. Ketika ia sudah mendapat pekerjaan sebagai guru, ia juga melakoni profesi tersebut dengan sikap yang sama. Ketika mengajar, ia juga bersikap, asal bisa selesai mengajar secepatnya. Ketika memberikan pelajaran privat di sore dan malam hari juga ia bersikap, `asal bisa cepat selesai'. Sedangkan ketika mengerjakan pekerjaan tambahan dengan menerima terjemahan, sikapnya juga tidak berubah: asal bisa cepat selesai dan cepat dapat uang. Akibatnya, ia benar-benar dikejar waktu dan tidak bisa menikmati pekerjaan yang dilakukannya. Iapun selalu terlihat stress, murung, lusuh dan lelah. Lain halnya dengan Ponco. Ponco sangat menikmati pekerjaannya sebagai guru. Pekerjaan sebagai guru ini sudah merupakan cita-citanya dari ketika ia masih diperguruan tinggi. Ponco yang berasal dari keluarga sangat sederhana menyadari bahwa pendidikan sangat diperlukan untuk membantu seseroang untuk keluar dari garis kemiskinan. Untuk itulah ia merasa perlu membantu orang lain, terutama mereka yang membutuhkan dengan memberikan jasa pendidikan. Dengan demikian, ia senantiasa dapat menikmati tiap detik dari pekerjaan yang dilakukan, baik ketika menyiapkan pelajaran, maupun ketika memberikan pelajaran. Tidak heran jika ia menjadi salah satu guru favorit dan menjadi salah satu rekan favorit. Dan tidak heran juga jika ia dinominasikan untuk menjadi kepala sekolah. Dengan sikap yang selalu ingin membuat hasil karyanya bermakna bagi orang lain, Ponco tidak merasa stress, bahkan ia merasa harus berbuat lebih banyak lagi. Ia juga bisa menikmati pekerjaan sebagai ketua RT dan koordinator sekolah gratis bagi warga sekitar yang membutuhkan. Jadi, disini terlihat perbedaannya. Ario, yang selalu terlihat sibuk, dikejar waktu, stress dan kelelahan ternyata adalah tokoh yang terlihat `gila kerja' tetapi tidak bisa menikmati pekerjaannya. Orang lain juga tidak bisa menikmati pekerjaannya, karena ia bekerja dengan berburu-buru dan bekerja dengan sikap `asal cepat selesai'' sehingga hasilnya juga kurang optimal. Sebaliknya, Ponco yang sangat menikmati pekerjaannya, bisa memaknai hasil karyanya. Orang-orang disekitarnya juga bisa mendapat manfaat dari keberadaan Ponco, terlebih lagi dari hasil karya Ponco. Walalupun melakukan pekerjaan yang sejenis dengan jumlah kegiatan yang sama banyaknya, Ponco dan Ario menghasilkan karya yang berbeda. Yang satu (Ario) menghasilkan kualitas kerja yang rata-rata bahkan cenderung kurang, sedangkan yang lain (Ponco) menghasilkan `maha karya' yang melegedna karena selalu dikerjakan dengan kualitas kerja yang tinggi dan dengan semangat serta emosi yang positif terhadap pekerjaan. Bagaimana dengan Anda, apakah saat ini Anda sedang sibuk bekerja atau sedang sibuk berkarya? Jika Anda sibuk bekerja, barhati-hatilah terhadap beban stress dan keterikatan terhadap waktu. Mungkin sudah saatnya Anda mengubah sikap atau mencari pekerjaan lain yang dapat memberikan makna dan manfaat bagi Anda, terutama bagi orang lain di sekitar Anda. Selamat berkarya. Sukses untuk kita semua. (*) Dekan FE Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta Sandra Sembel, (ssembel@yahoo. com) Pemerhati SDM dan Pakar e-Learning Sumber : Milis Motivasi Indonesia |