my journey

my journey

Jumat, 27 Mei 2011

terkadang kemiskinan bukan sekedar takdir tetapi pilihan

hmmm......setiap kali aku melewati gramedia selalu melihat bapak ini. Penjual kerupuk jepit dengan setumpuk dagangan duduk di trotoar. Hal yang sama tetap terlihat saat aku kembali ke kosan setelah bosan membolak-balik buku di gramedia. Si bapak tetap dengan tumpukan kerupuk yang sama, tapi kali ini si bapak telah memakai payung karena udara telah demikian panasnya, dan tentu saja trotoar tempat bapak tersebut duduk beralaskan kardus telah sangat panas.
setiap kali melihatnya aku selalu berkata, kenapa bapak ini tidak jualan air mineral aja? kan di stasiun selalu ada yg beli.........

sementara itu di stasiun kecil, seorang pengemis bapak2 menjual suaranya melalui membaca sesuatu yang terlihat seperti membaca ayat al qur'an. Sambil membaca si bapak menengadahkan tangan meminta belas kasihan orang yang lewat. namun setelah lama kuperhatikan, ternyata si bapak tidak terus menerus mengaji, si bapak hanya mengaji ketika melihat orang berjalan di dekatnya, baik penumpang kereta yang turun di stasiun maupun calon penumpang KRL yang berjalan ke stasiun. Dan jika uang yang didapatnya dirasa kurang, saat sore hari suara mengaji itu hilang digantikan oleh "pak...bu...tolonglah beri saya uang......pak, kasihanilah saya......."

Di tempat lain jauh nun di pedesaan, seorang ibu tengah duduk santai di beranda. Kedua anak lelakinya ada di dalam rumah, sedangkan suaminya bekerja sebagai tukang tambal ban sepeda di desa sebelah. Sudah beberapa minggu ibu tersebut tidak bekerja, bukan karena tidak ada pekerjaan, sang ibu memang tidak bergerak untuk mencari pekerjaan. Sebenarnya tetangganya telah menawarkan pekerjaan sebagai kuli tani untuk memetik cabai pada petani yang sedang mencari orang yang mau bekerja untuk memanen cabai di sawahnya. Kegiatan memanen cabai di desa tersebut biasa dikerjakan oleh para ibu-ibu rumah tangga karena bukan pekerjaan yang terlalu berat seperti mencangkul, hanya memetik cabai saja. Ibu tersebut sebelumnya setelah beberapa kali menjadi kuli tani untuk memetik cabai, namun sang ibu tersebut merasa malas dan capek dan akhirnya menolak pekerjaan tersebut. saat tetangganya datang mengajak bekerja ibu itu berkata "nggak ah, males, panas......capek..." sehingga tetangga tidak lagi mengajaknya. tetangganya adalah kuli cabai, seorang janda beranak 2 yang dipercaya oleh petani pemilik sawah untuk mencari orang memanen cabai di sawahnya. Ketentuan jam kerjanya dari jam 06.00-11.00 siang dan diatas jam 11.00 diberikan tambahan uang lembur, selain itu para kuli mendapat jatah makan pagi dan makan siang jika lembur.

Sementara sang ibu sedang bersantai di beranda, anak lelakinya datang menemui ibunya "bu, saya dan adek lapar.....", sang ibu melihat anaknya lalu berkata "iya, ibu tau kamu lapar, ya sudah kalian tidur saja, biar nanti perutmu lupa sama rasa laparmu, nanti bangun kamu tidak akan lapar lagi, kita lagi tidak ada beras", mendengar jawaban ibunya, sang anak kembali masuk ke rumah dan mengajak adiknya tidur seperti yang dikatakan ibunya. sementara sang anak masuk ke dalam ruamh untuk tidur, sang ibu meneruskan bersantai di beranda

Ibu ini sebenarnya punya 1 anak lagi, anak perempuannya telah menikah degan salah satu pemuda di desa tersebut. anak perempuan ibu tersebut tinggal bersama suaminya yang berjarak 1 km dari rumah ibunya. sang suami adalah seorang petani dengan sawah yang tidak luas yang disewanya dari orang tuanya untuk menghidupi dirinya dan istrinya dan sesekali sang suami juga menjadi kuli tani demi mendapatkan uang dan mempersiapkan persalinan istrinya, sang suami juga beternak sapi di belakang rumahnya, sapinya berjumlah 1 ekor karena uangnya hanya mampu untuk membeli 1 ekor sapi sebelum dia menikah. Saat ini istrinya tengah hamil, maka sang suami berusaha semakin giat bekerja untuk persiapan kelahiran anaknya. Karena keinginan suami untuk mempersiapkan kelahiran anaknya, sang suami semakin giat bekerja, sementara istrinya di rumah. Sang istri sering mengeluh karena ditinggal suaminya ke sawah dan mencari rumput. Suatu hari sang suami bersiap berangkat ke sawah kembali, sang istri mendekati suaminya "mau kemana lagi? ke sawah?", kata sang istri. Sang suami berkata "iya dek, mau cari rumput buat pakan sapi". "tidak usah pergi, di rumah saja", kata sang istri. Sang suami bertanya dengan cemas "kenapa? ada apa? apa kamu tidak enak badan dek....". istrinya menjawab sambil bersungut-sungut "nggak, aku ingin ditemani di rumah". kata sang istri, ini adalah permintaan istrinya kesekian kali, bukannya sang suami tidak pernah pulang, setiap hari sang suami bekerja dari jam 06.00-12, dan jam 14.00-16.00 di sawah, setelah itu di rumah besama istrinya. Namun sang istri sering marah-marah karena merasa tidak ditemani. Sedangkan dalam pikiran sang suami yang terpenting adalah hari ini harus bekerja agar bisa makan minimal sampai beberapa hari karena gajinya sebagai kuli tidak besar. Akhirnya sang suami menenangkan dan menjelaskan pada istrinya bahwa kalau dia bekerja besok mereka tidak punya uang belanja dan dia bekerja adalah demi istri dan anaknya, namun sang istri tidak mau tau. Sang istri tetap bersikukuh tidak mau ditinggal, sang suami akhirnya bilang"ya sudah, kamu ikut saja aku ke sawah, nanti kamu istirahat sambil nunggu aku bekerja", istrinya pun menjawab sambil marah "nggak mau, pokoknya aku ingin kamu dirumah. kamu cinta nggak sih sama aku?", kata istrinya. "tentu saja aku mencintaimu istriku......, tapi aku harus bekerja agar besok kita bisa makan.......", kata sang suami. sang istri segera menimpali " ya sudah, sekarang kamu pilih, aku apa sapimu...."......... dengan seringnya sang istri sang suami sering tidak bekerja demi menemani istrinya.......

Sedangkan janda 2 anak yang menjadi kuli tani, setiap hari dia bangun pagi dan menyiapkan makanan untuk anaknya. Meskipun hanya mampu membeli tempe atau tahu dengan hanya Rp. 2000, namun sang janda tersebut tetap giat bekerja. "Yang terpenting anakku harus bisa makan dan sekolah, meski murah harus ada lauk yang bisa dimakan anakku agar anakku bisa menerima pelajaran di sekolahnya dengan baik karena tidak sedang kelaparan", katanya dalam hati. Setiap pagi saat mendapat kiriman makan pagi dari petani yang mempekerjakannya, dia akan bilang "Pak, saya pinjam dulu rantang maknanannya, saya mau memberikan makanan ini untuk anak saya. Saya ijin pulang sebentar ya pak?" kata ibu janda. Pak petani yang melihat bu janda rajin setiap kali bekerja, maka dia mengijinkan ibu janda untuk pulang mengantar makanannya untuk anaknya. Bahkan pak tani tersebut dan istrinya memberikan porsi yang besar khusus pada ibu janda agar jatah sarapan paginya bisa dimakan untuk 3 orang tanpa mengurangi bayaran yang diberikan. Dengan ketekunannya sang ibu janda tetap bisa menghidupi anaknya, uang hasil pekerjaannya diatur sedemikian rupa sehingga dia masih bisa membiayai anaknya sekolah. Beberapa tokoh masyarakat di desa tersebut mendaftarkan anak ibu janda tersebut di panti asuhan yatim dan anak asuh agar mendapat uang biaya sekolah dan santunan lain. Ibu tersebut tetap tinggal dengan anaknya dan menggunakan dana yang didapatnya dengan sebaik-baiknya.

Setiap kali aku melihat orang seperti bapak2 yang pertama yang berjualan dan tidak laku-laku, aku selalu berkata kenapa dia tidak jual air mineral saja? kan lebih mungkin untuk laku......dan bisa membuat bapak itu makan.....setiap kali lihat penjual tape uli dan penjual rujak tumbuk, hal yang sama selalu terlintas. Suatu hari aku terdiam setelah mengatakannya......itu adalah pelajaran buat bapak tersebut qori, kata hatiku......lihatlah, Alloh telah memberikan karunia berupa otak. Jika dengan penghasilan yang dia dapat kemudian bapak itu berpikir bahwa pendapatannya masih kurang buat makan, pasti bapak tersebut akan mencari cara agar penghasilannya meningkat, entah dengan memodifikasi yang dijualnya, mengganti barang yang dijual atau bahkan beralih profesi........
Jadi dengan kondisi yang ada, Tuhan sebenarnya mengajarkan padanya, hanya bagaimana keputusan yang diambil bapak tersebut yang menentukan nasibnya, jika dia merasa telah cukup penghasilannya maka wajar jika bapak tersebut tetap menjual barang yang sama, tetapi jika dia merasa masih kurang tetapi tidak berubah, maka itu adalah keputusannya sendiri untuk memilih nasibnya......karena itu adalah pilihannya.......

Hal yang sama terjadi pada kondisi yang lain, apa yang menjadi pilihannya itulah yang akan terjadi. seperti ibu di desa dan istri yang hamil tersebut. miskin adalah pilihannya, memang mereka tidak mau bekerja, bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka malas. pekerjaan telah mendatanginya yang bisa di bilang rejeki telah dikirimkan Alloh kepadanya dalam bentuk tawaran pekerjaan yang datang padanya, namun adalah keputusannya ketika menolak, meski dengan konsekuensi dia dan anaknya menahan lapar......itu adalah pilihannya.....

keadaaan yang berbeda terjadi pada janda dengan 2 anak. tanggung jawabnya sebagai single parent telah membuatnya giat bekerja. meski kesulitan datang, namun sang ibu tetap berjuang agar anaknya bisa sekolah dan mendapat kehidupan yang lebih baik......

jadi semua adalah pilihan kita, mau berhasil atau tetap di tempat. Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri mau merubah nasibnya......