my journey

my journey

Jumat, 10 Desember 2010

antara kopaja, bemo eplet, najaj dan kereta

berangkat ke rscm pagi....hmm....udah kebayang situasinya

berangkat jam 6 kurang,6, 6.10, 6.20, 6.30, 6.40, 6.57, 07.00 situasi sama. empet2an di KRL. tak perlu berpegangan saat kereta bergoyang agak miring, tidak perlu takut jatuh klarena telah tertahan oleh penumpang yang lain, alias super penuh.cukup amanin tas, hp, dompet. kondisi penumpang dah teratur secara otomatis, seperti baris-berbaris, 2 - 3 bersab masing2 menghadap kursi penumpang. jangan coba berbanjar karena yang pertama akan dapat teguran penumpang lain, kedua menghalang dan mempersulit penumpang yang mau turun, dan ketiga.....yah sepertinya tidak mungkin dilakukan karena telah terlalu penuh meski hanya untuk menggerakkan badan. pas mepet pet. jadi, mungkin inilah pengganti apel padi di kantor...hehehe....(peace). kecuali yang dekat pintu otomatis yang kadang jadi tidak otomatis lagi karena g bisa ditutup, bukan rusak, tapi penumpang yang masuk telah melebihi kapasitas, sehingga kereta menutup pintu otomatis pun telah tidak mampu lagi, wal hasil, asal masuk aja, aman. tak jelas lagi bersap ato berbanjar karena telah penuh........tips : cari gebong wanita yang ternyata lebih lumayan bisa gerak tapi jelas tidak duduk ato masuk gerbong umum trus begitu mendekati pasar minggu segera ke tengah, karena begitu sampai kali bata mulai ada yang turun. kali aja dapat t4 duduk.

kalo dapat AC lumayan, meski ac tak terasa lagi, tinggal kipas angin yg muter. tapi masih bisa disyukuri....alhamdulillah, dapat masuk dan dapat kipas. setidaknya tidak terlalu kumut-kumut sampai di tempat.......

ato klo mau mencoba mandi sauna ala kereta ekonomi juga bisa......setidaknya masih tidak kena macet. klo pun sangat stress, tenangkan diri dengan berkata "penderitaan ini hanya berlangsung 30 menit".........:)

lepas dari kereta, perjuangan masih berlanjut. abang sopir bemo, bajaj ato kopaja telah menanti. pilihan pertama bemo super mini, yang kalo naik kapasitasnya pas 7 orang dengan kaki saling beradu. dapat duduk sampai cipto. siapkan masker ato tisu, karena asapnya langsung menyerbu bersama oksigen menuju tenggorokan dan langsung tenggorokan panas. inilah angkot terjelek yang pernah kutemui, dan hidup di ibukota tercinta. tapi pilihan satu inilah yang paling ekonomis klo pulang dinas pagi, karena merupakan satu-satunya angkutan manggarai-cipto.alangkah bersyukurnya jika angkutan ini diperbaiki atau disubstitusi kendaraan yang lebih baik sehingga minimal asapnya tidak bikin panas tenggorokan.......

pilihan kedua bajaj. cukup nyaman. asal mau merogoh kocek lebih banyak. lumayan klo ada teman minim 2 orang bisa patungan, klo lagi bertiga, pilihan terbaik adalah bajaj. harga setelah patungan sama dengan pilihan 1. jadi tipsnya adalah pandai-pandai mengatur jadwal dinas dengan teman biar bisa bareng2 patungan .... :)

pilihan ketiga, kopaja. lebih murah 500 perak. kadang duduk kadang berdiri. tapi bisa cepat dan tenggorokan sedikit lebih aman dari pilihan 1. lumayan.....asal kompetitif naiknya bisa menang dengan penumpang lain

jadi semua memang pilihan. meski apapun kondisinya, pengguna kereta tetap membludak, karena itulah satu-satunya angkutan bebas macet.......perhatikan saja social culturnya, klo ada pelecehan seksual, penumpang lain pasti mau ngasi tempat yang lebih aman, udah tau kodenya klo ada yang gak beres. tinggal bilang "pak minta tolong saya pindah situ..." dari pandangan udah tau semua. begitu masuk kereta udah tau harus berposisi seperti apa, bersab, bukan berbanjar, sepertinya tertata. trus klo sampai pasar minggu, banyak yang punya toleransi untuk gantian tempat duduk, klo mau turun ya dibantu kasi jalan...(ya iyalah), klo dipikir-pikir, budaya di kereta itu cukup unik. setidaknya bisa menjadi cerita survival di jakarta